Apa Neo Konfusianisme yang Diadopsi oleh Keshogunan Tokugawa di Jepang?

Konfusianisme adalah filosofi yang berdasarkan pada ajaran Konfusius di Cina pada abad ke-6 SM. Filosofi ini terus mempengaruhi negara-negara Asia Timur bahkan setelah 2.500 tahun. Di Jepang, Neo-Konfusianisme diperkenalkan selama Keshogunan Tokugawa dan kemudian dikembangkan sebagai studi filosofis yang unik. Di sini, kami akan menampilkan pengaruh Konfusianisme di Jepang, termasuk sejarahnya.

Apa Yang Disebut Dengan Studi Konfusianisme di Jepang?

Konfusianisme adalah ajaran filosofis yang disistematisasi oleh Konfusius pada Periode Musim Semi dan Musim Gugur di Tiongkok kuno. Saat itu, Tiongkok terbagi menjadi beberapa negara, yang sedang berperang. Dengan latar belakang ini, Konfusius berpendapat bahwa politik penguasa harus diatur oleh nenek moyang mereka, bukan oleh militer.

Konfusianisme juga mengajarkan bahwa menjaga hubungan antara ayah dan anak, tuan dan pelayan, suami dan istri, tua dan muda, dan di antara teman, adalah penting untuk melindungi kebajikan, kebenaran, rasa hormat, kebijaksanaan, dan keimanan. Makna dari kelima aspek ini adalah memperhatikan orang (kebajikan), mempertahankan keadilan sebagai individu (kebenaran), melindungi hubungan tingkat atas dan bawah (hormat), belajar dengan giat (kebijaksanaan), dan menepati janji dan untuk jujur (iman).

Konfusianisme di Era Tokugawa

Konon kabarnya Konfusianisme diperkenalkan ke Jepang ketika Gokyo Hakase mengunjungi Baekje (semenanjung Korea kuno) pada tahun 513. Namun, seperti yang ada deskripsi tentang hal ini yang tertulis di dalam Kojiki (Catatan Hal-Hal Kuno) yang dicatat selama periode sebelumnya , yaitu sekitar abad ke-5. Meskipun sejarah Konfusianisme di Jepang sudah tua, ia tidak secara luas ditetapkan sebagai agama atau aliran pemikiran seperti Buddha, di mana akan muncul kemudian.

Neo-Konfusianisme, yang dikembangkan dari Konfusianisme, diperkenalkan kembali ke Jepang selama periode Kamakura (sekitar tahun 1200). Sejak itu, Konfusianisme dipelajari oleh para biksu dan bangsawan. Namun, pada periode Edo, ketika aliran Neo-Konfusianisme Shushi-gaku dan Yomei-gaku diperkenalkan sebagai filosofi yang menghilangkan praktik-praktik seperti meditasi Zen, Konfusianisme dipisahkan dari Buddhisme dan ditetapkan sebagai ajaran tersendiri. Di Jepang, bentuknya menjadi sangat berbeda dari bentuk aslinya yang berasal dari Cina dan semenanjung Korea.

Konfusianisme yang Berakar di Jepang

Sampai periode Edo, Konfusianisme dijadikan sebagai disiplin akademis tersebar luas di kelas pengetahuan, akan tetapi di Jepang modern, Konfusianisme yang dipilih dengan cara yang sesuai dengan Jepan, telah mengakar di masyarakat umum. Saat ini, ajaran Konfusianisme berakar pada kebajikan orang Jepang, seperti menjaga ketertiban, menghormati kesopanan, ketekunan, dan menepati janji.

Daftar Isi

Survey[Survei] Liburan ke Jepang







Recommend