Saya mencoba menulis sutra atau dalam bahasa Jepang "写経" untuk pertama kalinya

Saya mencoba menulis sutra atau dalam bahasa Jepang

"写経" untuk pertama kalinya

Halo para pembaca! Perkenalkan, nama saya Septa. Saya berasal dari Indonesia dan sedang belajar dan menjalani program doctoral di Mie University, Jepang. Di sela-sela masa belajar saya, saya suka mengunjungi berbagai tempat di Jepang. Tidak harus jauh-jauh atau di tempat-tempat terkenal, saya juga suka mengunjungi tempat yang dekat untuk memperoleh lebih banyak pengalamann dan mempelajari kebudayaan masyarakat Jepang di sekitar saya tinggal.

Salah satunya adalah dengan pergi ke sebuah temple bernama Ue Tsuyama di Kota Iga, Mie Prefecture.

Di temple tersebut, saya pertama kali ikut dalam kegiatan menulis sutra atau dalam Bahasa Jepang disebut dengan Shakyou. Dalam Bahasa Indonesia secara umum tidak dikenal penulisan dengan karakter khusus selain huruf latin, kecuali beberapa penulisan Bahasa lokal. Oleh karena itu, penulisan kanji atau karakter khusus seperti ini tidaklah umum bagi saya dan menurut saya sangatlah menarik.

Di kampus, yakni Mie University, saya telah mencoba untuk ikut dalam kelas singkat penulisan kaligrafi untuk kanji (Chinese character ) dalam Bahasa Jepang. Pada kesempatan itu, saya merasa sangat terkesan dan selalu ingin sekali ikut dalam kegiatan penulisan kanji serupa, salah satunya adalah penulisan shakyou atau sutra d I temple ini. Sutra merupakan rangkaian doa atau puisi yang ditulis dengan kanji.

Penulisan kanji selalu memberikan tantangan bagi saya. Dalam menulis sutra yang dipenuhi kanji, kita tidak hanya akan menulis dengan semata-mata meniru kanji yang sudah ada, namun kita perlu memperhatikan prosedur penulisan. Dalam menulis sebuah huruf kanji, sudah umum sekali diketahui, bahwa penulisannya dimulai dari atas kiri lalu ke bawah kanan. Pada saat itu juga, kita perlu memperhatikan halus dan penekanan dalam menulis sebuah huruf kanji.

Dalam satu lembar sutra atau Shakyou, ada banyak sekali kanji yang harus dituliskan.

Pada kesempatan itu, naskah sutra yang saya tulis bernama Sutra Wakkai atau Han'nyashinkyō no shakyō dalam Bahasa Jepang.

Sebenarnya saya tidak mengerti secara keseluruhan makna dari karakter-karakter dalam Sutra tersebut dan ketika saya menanyakan pada peserta lainnya, teryata tidak semua orang Jepang juga mengerti maknanya secara menyeluruh. Yang saya tahu adalah, sutra tersebut terdiri dari rangkaian doa. Melihat banyaknya karakter yang ditulis dalam kertas tersebut, menurut saya, menulis sutra merupakan salah satu kegiatan yang juga menguji kesabaran.

Pada akhir penulisan sutra, saya menambahkan nama, tanggal lahir dan satu permohonan atau wish. Karena saya masih belum mampu menuliskan permohonan dalam Bahasa Jepang, saya menuliskannya dalam Bahasa Indonesia, yakni “Damailah Negeriku”. Jauh dari tanah air, saya tetap mengharapkan kedamaian dan keamanan di negeri sendiri.

Bagi saya, menulis Sutra merupakan salah satu cara baru yang juga baik dalam mempelajari kebudayaan Jepang dan kebudayaan Budha sekaligus. Ini merupakan salah satu pengalaman berharga buat saya.

Saat ini merupakan Musim Dingin di Jepang, namun lihat saja beberapa nenek di temple ini dengan semangat datang dan menulis Sutra bersama!

Di temple ini, penulisan Sutra biasanya dilakukan pada Sabtu ketiga di setiap bulannya. 

Скачать видео

Sepa

WNI yang belajar di Universitas Mie, program Doktoral di bidang Bioresources. Hobinya menyanyi dan berenang. Tertarik pada kuliner, bunga dan musik. Ahli menulis dalam bidang kuliner, pemandangan dan event. 


OTONAMIE  http://otonamie.jp/

*Website ini dilengkapi fitur Google Translate.

Daftar Isi

Survey[Survei] Liburan ke Jepang







Recommend